Jumat, 19 Februari 2010

alumni 2001,

BUKA BARENG,2009....
angkatan paling tua yang datang plus panitia, mudah-mudahan tahun ini angkatan muda yang bisa aksi di acara BuBar.....

kami sangat menunggu di undang....kami ingin di undang dan bukan mengundang...heuheu,

kebersamaan selama tiga tahun yang akan dikenang seumur hidup...

kita adalah saudara,
senang bisa bertemu kembali....BERSULANG,

angkatan 42,


saat saat bahagia....sesaat..hehe,
di acara Wisuda,

yang mau saya share adalah kebersamaan yang sempat kita rasakan sama2 mengucurkan darah dan keringat di plaza nusantara....

WOYYYY...DO NOT CROSS THE BLUE LINE...

saya bangga bisa mengenal kalian,

Little Angel


coba tebak yang mana?

:D

UNGARAN,semarang


Entah ini pendakian ke berapa kalinya ke gunung ungaran...lupa....hehehe,
tapi rasanya ini pendakian tersulit walaupun ketinggian ungaran hanya 2050 mdpl. tapi yang menyulitkan adalah....MAKSAKEUN....mendaki di musim hujan, walaupun kami tidak kehujanan sekalipun tapi kabut bersama kami non stop..jarak pandang hanya 15 meter di siang hari dan 2 meter di malam hari.

Ungaran, gunung di selatan kota semarang sangat mudah di akses...tinggal naik bus yang ke bandungan yang melewati pasar jimbaran dari pasar jimbaran mulai menikmati tanjakan lewat perkampungan,bisa juga di akses dengan kendaraan bermotor, setelah melewati perkampungan kita akan melewati ladang penduduk..sampai ke basecamp mawar....kalo ada yang bertanya kenapa harus nama mawar nggak nama yang lebih gagah kaya basecamp di Gunung yang lain, karena e karena dulu ladang yang sekarang didominasi oleh sayuran dulunya adalah ladang pengembangbiakan bunga mawar, dan di basecamp mawar kita bisa ISO (istirahat,shalat) dan juga bila kita melakukan pendakian pada malam minggu kita juga bisa menemui warung yang hanya buka seminggu sekali, ada satu hal yang saya rindu dari warung itu...es teh....hehehe,heran yea ampir masuk hutan tapi masih ada es. soalnya sampai ke basecame mawar pun masih bisa di akses oleh kendaraan bermotor.
Dari basecampe mawar kita bisa meneruskan perjalanan menuju basecame goa jepang,jangan bingung soal rute, udah ada markanya yang di buat pencinta alam setempat, di goa jepang kita bisa menyewa pondok milik penduduk untuk beristirahat dan juga ada beberapa warung yang byasa buka ketika ramai pendakian.
Dari goa jepang kita tinggal ngtrack langsung ke puncak selama lebih kurang 2,5 jam...

nyampe dah di puncak2050 Gunung Ungaran,

berpose bersama teman saya WILDAN di basecamp Goa Jepang;

1st Baron Baden-Powell



Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, (lahir di Paddington, London, Inggris, 22 Februari 1857 – meninggal di Nyeri, Kenya, 8 Januari 1941 pada umur 83 tahun) ialah tentara, penulis dan pendiri gerakan kepanduan dunia.ia diberi penghargaan karena keberaniannya. diantaranya ada 3 penghargaan yang diberi angkatan perang zulu yaitu:
  • impressa: serigala yang tak pernah tidur. karena dia sering berjaga-jaga saat malam
  • kantankye:orang pemakai topi lebar. karena dia selalu memaai topi lebar
  • m'hlalapanzi:orang bertiarap yang siap menembak.

Pada Januari 1912 Baden-Powell bertemu calon isterinya Olave Soames di atas kapal penumpang (Arcadia) dalam perjalanan ke New York untuk memulai Lawatan Pramuka Dunia. Olave berusia 23, Baden-Powell 55, dan mereka berkongsi tanggal lahir. Mereka bertunangan pada September tahun yang sama dan menjadi sensasi pers, mungkin karena ketenaran Baden-Powell, karena perbedaan usia seperti itu lazim pada saat itu. Untuk menghindari gangguan pihak pers, mereka melangsungkan pernikahan secara rahasia pada 30 Oktober 1912. Dikatakan bahwa Baden-Powell hanya memiliki satu petualangan lain dengan wanita (pertunganannya yang gagal dengan Juliette Magill Kinzie Gordon).

Pramuka Inggris menyumbang satu penny masing-masing dan mereka membelikan Baden-Powel hadiah pernikahan, yaitu sebuah mobil Rolls Royce.

dan mereka dikaruniai anak yang menjadi penerus sir baden powell,

  • Peter, kemudian 2nd Baron Baden-Powell (1913-1962)
  • Hon. Heather Baden-Powell (1915-1986)
  • Hon. Betty Baden-Powell (1917-2004) yang pada 1936 menikah dengan Gervase Charles Robert Clay (lahir 1912 dan memiliki 3 anak laki-laki dan 1 perempuan)

dan ketika akan tutup usia sir baden powell menullis pesan terakhir sebelum ia meninggal sebagai tanda pandu tidak akan mati walau beliau telah tiada,

Dear Scouts,

If you have ever seen the play Peter Pan you will remember how the pirate chief was always making his dying speech because he was afraid that possibly when the time came for him to die he might not have time to get it off his chest. It is much the same with me, and so, although I am not at this moment dying, I shall be doing so one of these days and I want to send you a parting word of good-bye.

Remember, it is the last you will ever hear from me, so think it over.

I have had a most happy life and I want each one of you to have as happy a life too.

I believe that God put us in this jolly world to be happy and enjoy life. Happiness doesn't come from being rich, nor merely from being successful in your career, nor by self-indulgence. One step towards happiness is to make yourself healthy and strong while you are a boy, so that you can be useful and so can enjoy life when you are a man.

Nature study will show you how full of beautiful and wonderful things God has made the world for you to enjoy. Be contented with what you have got and make the best of it. Look on the bright side of things instead of the gloomy one.

But the real way to get happiness is by giving out happiness to other people. Try and leave this world a little better than you found it and when your turn comes to die, you can die happy in feeling that at any rate you have not wasted your time but have done your best. "Be Prepared" in this way, to live happy and to die happy—stick to your Scout promise always—even after you have ceased to be a boy—and God help you to do it.

Your Friend,
BADEN-POWELL.

tentang kami,


persaudaraan yang tumbuh dan mengakar....ribuan tetes keringat yang kami cucurkan bersama dalam setap kegiatan atau hanya ngabojeg.
kami yang akan selalu memimpikan perdamaian....kami yang selalu mengingat satu sama lain...kami yang berjanji mengabdi...dan kami adalah saudara,

SAPTA WISESA PRASETYA
sebuah awal dari persaudara yang hingga kini tetap terjaga, walaupun saya banyak mencoreng dan melukai persaudaraan ini....kalian tetap saudara ku,maap jadi agak melankolis,
dan kita akan selalu berjaya........gracias.

Kamis, 18 Februari 2010

elang,



Elang adalah hewan berdarah panas, mempunyai sayap dan tubuh yang diselubungi bulu pelepah. Sebagai burung, elang berkembang biak dengan cara bertelur yang mempunyai cangkang keras di dalam sarang yang dibuatnya. Ia menjaga anaknya sampai mampu terbang.

di indonesia pun terdapat salah satu species elang yang sekarang jumblahnya sangat terbatas dan menjadi salah satu satwa yang dilindungi,

Elang jawa (Spizaetus bartelsi)

yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 (dari ujung paruh hingga ujung ekor).

Kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang nampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar.

Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis.

Ketika terbang, elang Jawa serupa dengan elang brontok (Spizaetus cirrhatus) bentuk terang, namun cenderung nampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil.

Bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara elang brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya

pada tahun 1950, oleh para bapak bangsa republik ini, burung mitologis ini dipilih sebagai lambang negara. Ia diambil dari ranah mitologis, kemudian dikawinkan dengan elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan mewujud dalam bentuk lambang negara yang ada sekarang. Kenapa elang Jawa? Karena kemiripannya dengan Garuda. Elang Jawa hanya terdapat di Pulau Jawa dan penyebarannya terbatas di hutan-hutan. Sebagai predator puncak, Elang Jawa memainkan peran yang penting dalam menjaga keseimbangan dan fungsi dari bioma hutan di Jawa.